Menghitung Potensi Zakat Kota Bogor

Menghitung Potensi Zakat Kota Bogor
 
Kamis, 25 Februari 2016, 15:00 WIB
 

Jumlah penduduk Kota Bo gor tahun 2014 sebesar 1,030,720 jiwa. Pertum buhan penduduk di Kota Bogor setiap tahunnya me ningkat, sejalan dengan kenaikan jumlah penduduk, terjadi pula kenaikan jumlah rumah tangga. Jumlah rumah tangga di Kota Bogor pada tahun 2014 adalah 253,934 dengan rata-rata jum lah anggota rumah tangga sebanyak 4,06 orang, suatu gambaran ideal untuk se buah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak (BPS Kota Bogor 2015). Kemudian berdasarkan SUSE NAS jumlah angkatan kerja di Kota Bo gor tahun 2014 sebanyak 84,990 pekerja (BPS Kota Bogor 2014). Sedangkan penduduk muslim sebesar 91 persen atau sebanyak 944,042 jiwa (BPS Kota Bogor 2015). 

Adapun kondisi ekonomi Kota Bogor semakin hari semakin baik. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan besaran nilai PDRB yang merupakan salah satu indikator yang dijadikan ukuran untuk menilai keberhasilan pembangunan suatu daerah atau dengan kata lain pertumbuhan ekonomi suatu daerah dapat tercermin melalui pertumbuhan nilai PDRB Atas Dasar Harga Konstan. Laju pertumbuhan ekonomi Kota Bogor pada tahun 2014 adalah 5.97 persen, sedikit lebih lambat dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 yang mencapai 5.99 persen. Penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi ini antara lain dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan investasi di Indonesia (BPS Kota Bogor 2015).Sementara garis kemiskinan Kota Bogor dari tahun 2009 sampai 2013 mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 garis kemiskinannya sebesar Rp 335,894 per bulan. Garis kemiskinan yang meningkat pada tahun 2013 yaitu sebesar Rp 360,518 per bulan. Sementara itu, jumlah penduduk miskin terus mengalami penurunan dari 8.48 persen 2012 menjadi 8.19 persen di tahun 2013 (BPS Kota Bogor 2015). 

Sedangkan total penerimaan zakat mal di BAZNAS Kota Bogor tahun 2014 sebesar Rp5 903 032 374. Persentase penerimaan zakat mal terbesar diperoleh dari zakat muzaki personal, yaitu sebesar 74 persen. Penerimaan zakat mal dari muzaki perusahaan sebesar 15 persen dan dari muzaki dinas atau instansi sebesar 11 persen. (Baznas Kota Bogor) 

Potensi zakat 
Penghitungan potensi zakat ini diperoleh dari jumlah potensi zakat beberapa sektor, yaitu: (1) zakat rumah tangga, (2) zakat perusahaan BUMD dan industri swasta) dan (3) zakat tabungan. Zakat rumah tangga didapat dari pendapatan profesi. Zakat profesi dihitung berdasarkan qiyas (analogi) syabah yaitu perpaduan zakat pertanian dan zakat emas atau perak. Dari sudut nisab dianalogikan pada zakat pertanian yaitu sebesar 524 kg beras dan dikeluarkan pada saat menerimanya. Dari sudut kadar zakat, dianalogikan pada zakat emas yaitu sebesar 2.5 persen. Penda patan per bulan yang terkena zakat harus mencapai Rp 3,500,000, dengan asumsi harga beras pada tahun 2014 menurut HPP (Harga Pembelian Pemerintah) beras adalah sekitar Rp 6,600. 

Adapun zakat perusahaan dianalo gikan kepada zakat perdagangan. Nisabnya adalah senilai 85 gram emas dan didasarkan pada seluruh harta ditambahkan keuntungan dikurangi pembayaran utang dan kewajiban lainnya lalu dikeluarkan 2.5% sebagai zakatnya. Sedangkan zakat tabungan dianalogikan ke nisab emas. Nisabnya sebesar 85 gram emas, kadarnya 2.5% dan ada haul. 

Selanjutnya, perhitungan potensi zakat rumah tangga ini diperoleh dari jumlah pendapatan angkatan kerja Kota Bogor tahun 2014 yang mencapai nisab. Berdasarkan SUSENAS pendapatan pekerja yang per bulannya mencapai (Rp3,500,000) ada sebanyak 42.846 pekerja (BPS Kota Bogor 2014). Penghi tungan potensi zakat rumah tangga Kota Bogor tahun 2015 diperoleh dari jumlah total pendapatan pekerja muslim per tahun dikali 2.5%, yaitu mencapai sebesar Rp 66.66 miliar. 

Adapun zakat perusahaan dibagi kedalam 2 bagian, yaitu zakat dari BUMD dan industri swasta. BUMD Kota Bogor terdiri atas 4 perusahaan daerah. Dari laba bersih yang diraih keempat perusahaan daerah tersebut, diperoleh potensi zakat BUMD yang mencapai angka Rp 3.27 miliar. Sedangkan untuk industri swasta, total potensi zakatnya mencapai angka Rp 21.499 miliar. Sektor usaha yang paling besar potensi zakatnya adalah perdagangan besar dan eceran (Rp 11.5 miliar) dan industri pengolahan (Rp 6.04 miliar).

Potensi zakat tabungan diperoleh berdasarkan penjumlahan tabungan dari beberapa kelompok bank tahun 2014, yaitu tabungan dari bank persero, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa, BUSN Non-devisa, Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Campuran. Dari total jumlah tabungan sebesar Rp 16.31 triliun dikali 2.5 persen dan 91 persen muslim, maka didapat potensi zakat tabungan senilai Rp 370.9 miliar. 

Kesimpulan 
Estimasi total potensi zakat Kota Bogor diperoleh dari penjumlahan zakat dari 3 sektor di atas. Dari perhitungan potensi di atas, maka didapat total potensi zakat Kota Bogor pada tahun 2015, yaitu sebesar Rp 462.40 miliar. Zakat tabungan tercatat memiliki poten si zakat yang paling besar, disusul oleh potensi zakat profesi dan zakat perusahaan (BUMD dan swasta). 

Namun melihat fakta yang ada, dana zakat, infak dan sedekah yang terhimpun oleh Baznas Kota Bogor baru sekitar Rp 5 miliar saja. Karena itu, Baznas Kota harus terus meningkatkan kinerjanya agar potensi yang cukup besar tersebut dapat dicapai. Dalam hal ini dukungan pemerintah setempat dapat lebih opti mal dan maksimal karena tanpa dukungan dari pemerintah dan masyarakat setempat potensi yang besar tersebut tidak dapat dimaksimalkan. Semakin besar dana ZIS yang terhimpun, maka semakin besar dana yang tersedia untuk membantu fakir dan miskin di Kota Bogor, sehingga kemiskinan akan terus berkurang. Wallaahu a'lam.

Yusrini Santika
Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB

Dr Alla Asmara
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB

Deni Lubis
Dosen Prodi Ilmu Ekonomi Syariah FEM IPB

http://www.republika.co.id/berita/koran/iqtishodia/16/02/25/o33fk52-menghitung-potensi-zakat-kota-bogor