Peran Zakat dalam Meningkatkan Produktivitas Mustahik

Adli Dzil Ikram 

Alumnus S1 Ekonomi Syariah FEM IPB

Dr Sri Mulatsih 

Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB

Khalifah Muhamad Ali 

Staf Pengajar Prodi Ekonomi Syariah FEM IPB

 

 

Islam adalah agama yang sangat perhatian terhadap isu pengentasan kemiskinan. Zakat sebagai rukun Islam yang ketiga adalah salah satu instrumen keuangan sosial Islam yang kerap digunakan dalam mengatasi masalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan antara orang kaya dan orang miskin. Penelitian Beik (2009) menunjukkan bahwa selain mampu mengurangi jumlah penduduk miskin, zakat juga dapat mengurangi kesenjangan kemiskinan dan kesenjangan pendapatan serta kedalaman kemiskinan.

Pengelolaan zakat telah dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011. Dalam praktiknya, OPZ (Organisasi Pengelola Zakat) menyalurkan zakat dalam bentuk produktif dan konsumtif.

Zakat produktif diarahkan untuk memberdayakan ekonomi mustahik, sedangkan zakat konsumtif dimaksudkan untuk mengatasi masalah jangka pendek mustahik.

Diantara program zakat konsumtif yang sering diselenggarakan OPZ adalah program kesehatan. Program kesehatan adalah salah satu program utama dalam penyaluran zakat nasional karena kesehatan adalah modal untuk beribadah kepada Allah, bermuamalah kepada manusia, dan berupaya dalam menggapai tujuan-tujuan agama Islam (maqa shid as-syariah). Todaro dan Smith (2006) menyatakan bahwa kondisi kesehatan mempengaruhi produktivitas seseorang.

Tubuh sehat adalah salah satu syarat utama untuk mendapatkan etos kerja yang akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mustahik.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh program kesehatan yang merupakan bentuk penyaluran zakat konsumtif terhadap produktivitas mustahik. Penelitian ini dilakukan di BAZNAS Kota Bogor yang merupakan salah satu Badan Amil Zakat terbaik.

Badan Amil Zakat Kota Bogor pernah menjadi Badan Amil Zakat Kota/Kabupaten terbaik tingkat nasional tahun 2010 untuk kategori Kreativitas Program dan Pendayagunaan versi BAZNAS. BAZNAS Kota Bogor pada tahun 2015 memiliki proporsi penyaluran zakat konsumtif sejumlah 99. 6 persen yang sebagiannya disalurkan dalam bentuk program kesehatan berupa program Bogor Sehat.

Metode dan hasil penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Agustus 2016 di 8 kelurahan yang tersebar pada kecamatan Bogor Timur, Bogor Barat, dan Bogor Selatan. Wawancara dilakukan kepada 37 responden mustahik program kesehatan pada dua klinik penerima program yaitu, Poliklinik Ibnu Sina Tirta Pakuan, dan Poliklinik Ibnu Sina Masjid Agung Pasar Anyar, yang berlokasi di Kota Bogor. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan tiga tahunan BAZNAS Kota Bogor, Badan Pusat Statistik, jurnal, artikel, skripsi dan internet.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif berupa uji t berpasangan dan metode OLS (Ordinary Least Square). Hasil analisis menunjukkan bahwa pendapatan mustahik setelah menerima zakat pada program kesehatan lebih besar dari pendapatan sebelum menerima zakat.

Ini juga berarti bahwa distribusi zakat pada program kesehatan sub program aktivitas klinik yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Bogor dapat meningkatkan produktivitas mustahik yang ditandai dengan adanya peningkatan pendapatan mustahik. Hasil ini sejalan dengan penelitian Murniati (2014) bahwa distribusi zakat berdampak positif terhadap pendapatan mustahik yang kemudian akan berpengaruh pada kenaikan tingkat pendapatan dan kemampuan mendapatkan pekerjaan lebih baik.

Selanjutnya, Tabel 1 menggambarkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap peningkatan produktivitas mustahik adalah tingkat pendidikan, kualitas hidup, dan frekuensi berobat.

Variabel pendidikan berpengaruh positif terhadap produktivitas signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan mustahik maka produktivitas akan semakin besar. Nilai koefisien dari pendidikan sebesar 0. 240 menunjukkan setiap peningkatan pendidikan selama satu tahun akan meningkatkan produktivitas mustahik sebesar 0.

24 persen, cateris paribus. Lama pendidikan dari mustahik akan mempengaruhi pengetahuan, wawasan dan jaringan pertemanan yang menyebabkan informasi serta keterampilan yang dimiliki oleh mustahik lebih banyak yang kemudian menjadi modal dasar dari mustahik untuk bekerja lebih produktif dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Variabel kualitas hidup berpengaruh positif terhadap produktivitas. Ini menun jukkan bahwa semakin tinggi kualitas hidup maka produktivitas mustahik akan semakin besar.

Nilai dari koefisien dari kualitas hidup sebesar 1. 312, yang berarti setiap peningkatan kualitas hidup sebesar 1 satuan akan meningkatkan produktivitas mustahik sebesar 1. 312 persen, cateris paribus. Setelah mendapatkan zakat pada program kesehatan kualitas hidup mustahik meningkat.

Hasil temuan tersebut berdasarkan nilai indeks kualitas hidup yang dapat diuraikan dari segi kesehatan fisik mustahik ditandai dengan membaiknya kondisi kesehatan pasien setelah berobat.

Dari kesehatan psikologi yang ditandai dengan semakin optimis mustahik dalam menjalani hidup. Dari segi kualitas hubungan sosial mustahik semakin meningkat karena kondisi yang lebih sehat menunjang untuk mobilitas pergaulan mustahik dan harmonisnya kondisi keluarga. Namun dari segi kesehatan lingkungan hasil temuan menunjukkan belum memiliki dampak yang positif terhadap kualitas hidup mustahik yang akan membantu meningkatkan produktivitas mustahik karena mayoritas mustahik masih tinggal di daerah kumuh.

Variabel frekuensi berobat juga berpengaruh positif terhadap produktivitas.

Hal ini menunjukkan bahwa sema kin tinggi frekuensi berobat maka produktivitas mustahik akan semakin besar. Nilai dari koefisien frekuensi berobat sebesar 1.179, yang berarti setiap peningkatan frekuensi berobat sebesar satu kali akan meningkatkan produktivitas mustahik sebesar 1. 179 persen, cateris paribus.

Hasil frekuensi berobat yang berpengaruh positif bisa dikarenakan mayoritas mustahik termasuk dalam kategori usia produktif, sehingga rasa sakit yang diderita masih bisa diatasi dan masih mampu produktif menjalankan aktivitas pekerjaan, selain itu baiknya pelayanan klinik mengakibatkan pasien dapat segera kembali kepada kon disi yang sehat setelah berobat yang akan berpengaruh pada produktivitas mustahik.

Hasil analisis menyimpulkan bahwa pertama, pemberian bantuan zakat pada layanan kesehatan memiliki dampak positif terhadap produktivitas mustahik.

Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan rata-rata pendapatan mustahik antara sebelum menerima zakat dan setelah menerima zakat. Kedua, faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap peningkatan produktivitas mustahik adalah tingkat pendidikan, kualitas hidup, dan frekuensi berobat.     Wallaahu a'lam.